Sunday, February 28, 2016

8:15:00 AM
BAB I
PENDAHULUAN

1.1.  Latar Belakang
Upaya membangun keefektifan pemimpin terletak semata pada pembekalan dimensi keterampilan teknis dan keterampilan konseptual. Adapun keterampilan personal menjadi terpinggirkan. Padahal sejatinya efektifitas kegiatan manajerial dan pengaruhnya pada kinerja organisasi, sangat bergantung pada kepekaan pimpinan untuk menggunakan keterampilan personalnya. Keterampilan personal tersebut meliputi kemampuan untuk memahami perilaku individu dan perilaku kelompok serta kemampuan dalam meramalkan keadaan ekonomi kedepan, dalam kontribusinya membentuk dinamika organisasi, kemampuan melakukan modifikasi perilaku, kemampuan memahami dan memberi motivasi, kemampuan memahami proses persepsi dan pembentukan komunikasi yang efektif, kemampuan memahami kondisi atau keadaan kedepan akan pertumbuhan ekonomi dan  relasi antar konsep kepemimpinan-kekuasaan-politik dalam organisasi.
Kreativitas penting bagi pengambil keputusan, hal ini memungkinkan pengambil keputusan untuk lebih sepenuhnya menghargai dan memahami masalah, termasuk melihat masalah-masalah yang tidak dapat dilihat orang lain, namum kenyataannya banyak pemimpin dalam pengambilan keputusan tidak memperhatikan perilaku pemimpin yang sebaiknya.
Pengambilan keputusan adalah memilih satu atau lebih diantara sekian banyak alternatif keputusan yang mungkin. Alternaif keputusan meliputi keputusan ada kepastian, keputusan beresiko, keputusan ketidakpastian.
Keputusan bisa dibuat berulang kali secara rutin dan dalam bentuk persoalan yang sama sehingga mudah dilakukan keputusan. Keputusan yang dihadapi mugnkin serupa dengan situasi yang pernah dialami, tetapi ada ciri khusus dari permasalahan yang baru timbul.

1.2.   Rumusan Masalah
Berdasarkan Uraian diatas maka kita bisa mengetahui beberapa masalah dalam pengambilan keputusan. Permasalahan diatas bisa dicari bagaimana cara mengambil keputusan yang efektif dan cara mengambil keputusan yang kreatif sesuai metode dan teori pengambilan keputusan.

1.3.   Tujuan
Tujuan dalam pembuatan makalah ini adalah :
1.     Mempelajari bagaimana mengambil keputusan yang efektif
2.    Mengambil keputusan sesuai dengan metode dan teori pengambilan keputusan.

BAB II
     PEMBAHASAN

2.1.   Definisi Pengambilan Keputusan
            Keputusan adalah hasil pemecahan masalah yang dihadapinya dengan tegas. Hal itu berkaitan dengan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mengenai ‘apa yang harus dilakukan’ dan seterusnya mengenai unsur-unsur perencanaan. Dapat juga dikatakan bahwa keputusan itu sesungguhnya merupakan hasil proses pemikiran yang berupa pemilihan satu diantara beberapa alternatif yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah yang dihadapinya.
            Keputusan itu sendiri merupakan unsur kegiatan yang sangat vital. Jiwa kepemimpinan seseorang itu dapat diketahui dari kemampuan mengatasi masalah dan mengambil keputusan yang tepat. Keputusan yang tepat adalah keputusan yang berbobot dan dapat diterima bawahan.        Setelah pengertian keputusan disampaikan, kiranya perlu pula diikuti dengan  pengertian tentang “pengambilan keputusan”. Ada beberapa definisi tentang pengambilan keputusan, dalam hal ini arti pengambilan keputusan sama dengan pembuatan keputusan.
Menurut Terry, definisi pengambilan keputusan adalah pemilihan alternatif perilaku dari dua alternatif atau lebih ( tindakan pimpinan untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dalam organisasi yang dipimpinnya dengan melalui pemilihan satu diantara alternatif-alternatif yang dimungkinkan).
            Menurut Siagian,  pengambilan keputusan adalah suatu pendekatan terhadap hakikat suatu masalah, pengumpulan fakta-fakta dan data, penentuan yang matang dari alternatif yang dihadapi dan pengambilan tindakan yang menurut perhitungan merupakan tindakan yang paling tepat.
            Dari kedua pengertian diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa keputusan itu diambil dengan sengaja, tidak secara kebetulan, dan tidak boleh sembarangan. Masalahnya telebih dahulu harus diketahui dan dirumuskan dengan jelas, sedangkan pemecahannya harus didasarkan pemilihan alternatif terbaik dari alternatif yang ada.

2.2.   Tujuan Pengambilan Keputusan
Kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam organisasi itu dimaksudkan untuk mencapai tujuan organisasinya yang dimana diinginkan semua kegiatan itu dapat berjalan lancer dan tujuan dapat dicapai dengan mudah dan efisien. Namun, kerap kali terjadi hambatan-hambatan dalam melaksanakan kegiatan. Ini merupakan masalah yang hatus dipecahkan oleh pimpinan organisasi. Pengambilan keputusan dimaksudkan untuk memecahkan masalah tersebut.

2.3.      Pengambilan Keputusan Lawan Alam
Situasi dimana keputusan diambil paling tidak mempunyai tiga kemungkinan,  antara lain keserbapastian,ketidakpastian,atau beresiko. Situasi semacam itu dalam bahasa Inggris dinamakan state of nature sehingga kata alam yang digunakan disini harus diartikan sebagai situasi pascakeputusan diambil atau kondisi alam (state of nature ) setelah periode pengambilan keputusan. Sementara itu,kontinum(rangkaian) “kepastian-ketidakpastian” merupakan kebolehjadian keberadaan situasi alamiah yang mungkin terjadi.
2.3.1.      Keputusan dalam Situasi Pasti
Pengambilan keputusan dalam situasi  pasti dapat kita temukan dalam keputusan investasi. Yield yang dihasilkan investasi yang ada bervariasi,bergantung pada situasi perekonomian pascakeputusan. Dalam situasi kepastian,kondisi ekonomi mendatang dapat diprediksi pertumbuhannya dengan tepat. Walaupun hal ini secara logis merupakan hal yang tidak mungkin,banyak pengambil keputusan menghitung fisibilitas (kelayakan) investasi dengan cara seperti itu mereka menghitung internal rate of return (IRR) atau net present value (NPV) dalam situasi pertumbuhan ekonomi mendatang yang dapat diduga/diramalkan (predictable).
Tabel 3.1 Menggambarkan keputusan dalam situasi pasti.
Predictability (kemungkinan peramalan) situasi ekonomi pada masa mendatang merupakan utopia dalam dua decade belakangan ini dan masih akan menjadi isu pada decade-dekade mendatang. Kegagalan ekonomi Amerika Serikat (AS) yang menimbulkan ledakan pengangguran,hancurnya pasar saham diberbagai belahan dunia,jatuhnya berbagai mata uang dunia secara berlarut-larut,
Tabel 3.1 Pengambilan keputusan situasi pasti : Internal rate of return (IRR) dan analisis net present value (NPV)

serta keguncangan politik luar negeri akibat permainan politik berbagai Negara adidaya/adikuasa dalam rangka menguasai sumber-sumber minyak mentah Timur Tengah merupakan berbagai factor yang menisbikan kepastian kondisi ekonomi dunia,regional,dan nasional. Hal ini berarti bahwa model-model keputusan yang bertumpu pada situasi kepastian haruslah ditinggalkan dan pengambil keputusan bergerak kearah pengambilan keputusan dalam situasi ketidakpastian (uncertainty) atau dalam situasi beresiko dimana nilai hasil (outcome) pada setiap keadaan berbeda-beda. Dengan demikian,model-model evaluasi IRR dan NPV dalam berbagai buku pembelanjaan/Manajemen Keuangan (Financial Management) sudah selayaknya ditinggalkan atau paling tidak menggunakan sudut pandang pengambilan keputusan beresiko,dimana model tersebut digunakan dengan modifikasi dari situais NPV tunggal kerah situasi NPV dalam kondisi beresiko.
Modifikasi tersebut dilakukan dengan meninggalkan perhitungan IRR dan NPV yang mengasumsikan tingkat pertumbuhan ekonomi tertentu dimasa depan. Dalam modifikasi ini,table arus kas (cash flow) lain dibuat untuk situasi tingkat pertumbuhan ekonomi yang berbeda,yang bergantung pada kondisi ekonominya. Dengan asumsi seperti itu,perkiraan besarnya pendapatan (revenue) dan biaya (cost) dapat dilakukan pada berbagai situasi ekonomi yang membutuhkan perhitungan expected value (nilai harapan/yang diperkirakan) dari nilai-nilai NPV yang dihasilkan.
Pengambilan keputusan lain dalam situasi serba pasti adalah keputusan untuk menambah jumlah loket layanan. Penyelesaian keputusan terhadap jumlah loket yang harus ditambahkan dilakukan dengan odel antrean yang mengasumsikan paling tidak dua hal secara pasti,yaitu (1) jumlah kedatangan per jam dan (2) kecepatan layanan per jam.
Dalam banyak kasus manajerial,pengambilam keputusan dalam situasi serba pasti masih mungkin dilakukan dalam konteks dimana situasi pengambilan keputusan terisolasi dari lingkungan eksternal dengan tingkat perubahan sangat dinamis.
2.3.2.      Keputusan dalam Situasi Tidak Pasti
Situasi ini terjadi ketika pengambil keputusan memahami bahwa situasi masa depan adalah divergen dengan banyak kemungkinan dan setiap kemungkinan tidak dapat diperkirakan peluang terjadinya. Contohnya dalam kasus keputusan investasi. Sesungguhnya,pengambil keputusan menyadari bahwa nilai NPV akan bersifat unik bergantung pada kondisi ekonomi pada masa depan. Ketika kondisi ekonomi berada dalam situasi resesi,nilai NPV akan mencapai titik nadir (terendah) dibandingkan dengan apabila kondisi ekonomi dalam situasi bertumbuh atau prosper. Besarnya nilai NPV untuk setiap situasi ekonomi dapat diperkirakan dengan mengasumsikan tingkat produk domestic bruto (PDB) tertentu. Namun demikian,pengambil keputusan tidak dapat memperkirakan berapa besarnya kasus kejadian masing-masing kondisi ekonomi.
Situasi tidak pasti (uncertainty) memiliki sifat-sifat sebagai berikut :
  1. Presensi kondisi alam adalah jamak dengan probabilitas tidak diketahui.
  2. Pengambil keputusan tidak memiliki data yang cukup tentang kodisi alam.
Penyelesaian situasi ini dapat dilakukan dengan berbagai model keputusan,seperti model simulasi,model maksimin dan regret,serta model scenario.
A.     Model Simulasi dalamSituasi Tidak Pasti
Dalam model simulasi,pengambilkeputusan menggunakan perangkat lunak (software) spread sheet (lembar kerja) untuk menggambarkan aliran pendapatam (revenue),biaya(cost),dan keuntunga/laba (profit) pada tahun-tahun mendatang. Masing-masing nilai dapat berubah dengan mengubah nilai input(inputan) dari asumsi dan sensitivitas perubahan biaya dan harga. Proyek yang sangat sensitive terhadap perubahan,dimana dengan penurunan sedikit harga jual dapat enyebabkan proyek merugi atau mengurangi keuntungan proyek secara signifikan seharusnya ditolak. Dengan mengubah-ubah nilai input tersebut,pengambil keputusan dapat melihat tingkat sensitivitas proyek yang sedang dievaluasi.
Table 3.2 menunjukkan sebuah contoh spread sheet semacam itu dimana pengambil keputusan membuat model pendapatan-biaya-keuntungan,yang nilainya dapat diubah dengan mengubah nilai input dari pangsa/penguasaan  pasar (marker share) periode 2003-2007,peningkatan harga (price increase),dan peningkatan biaya (cost increase).
Dengan mengubah-ubah nilai input tersebut,pengambil keputusan akan memperoleh tingkat keyakinan yang diperlukan untuk menerima atau enolak proyek yang diusulkan. Sebuah proyek yang bagus seharusnya tidak memiliki sensitivitas terhadap penurunan harga dan peningkatan biaya. Apabila sensitivitas terhadap kedua hal ini sangat tinggi-penurunan harga sedikit saja atau peningkatan biaya sedikit saja menyebabkan proyek dala posisi kerugian,proyek tersebut tidak layak dipertimbangkan karena terlalu beresiko.
Table 3.2 Contoh spread sheet model Pendapatan-Biaya-Keuntungan
NO
Deskripsi
2004
2005
2006
2007
1
2
3
Pendapatan
Biaya
Keuntungan
6,6
4,8
1,8
,88
5,76
6,12
21,38
6,912
14,47
38,49
8,49
30,2
Penjualan 2003
: 5,5
: 20%
: 20%
: 30%
: 20%
: 4
: 20%

Pangsa pasar 2003

Pangsa pasar 2004

Pangsa pasar 2005-2007

Peningkatan harga

Biaya 2003

Peningkatan biaya


B.       Model Maksimin dalam Situasi Tidak Pasti
Sebagai alternatif,pengambil keputusan dapat menstandardisasikan situasi masa depan kedalam dua atau tiga profil situasi,(1) pertumbuhan ekonomi rendah (low),(2) pertumbuhan ekonomi sedang (medium-med) dan (3) pertumbuhan ekonomi tinggi (high). Dalam setiap situasi,nilai hasil setiap alternative keputusan dapat dihitung baik dalam unit keuntungan maupun NPV.
Model/metode maksimin(maksimum dari minimum) adalah metode yang berpegang pada prinsip pesimisme sehingga ketika dihadapkan pada sebuah pilihan investasi,pengambil keputusan selalu bertanya : Berapakah minimal yang akan saya peroleh dari pilihan ini (dalam hal keuntungan) ? Atau,berapakah maksimal saya akan rugi atau mengeluarkan biaya atas pilihan alternative ini (dalam hal rugi atau biaya) ? Begitu pertanyaan ini terjawab untuk masing-masing anternatif,pengambil keputusan akan memilih alternative yang memberikan keuntungan yang tertinggi(maksimal). Oleh karena itu,metode ini disebut dengan metode maksimin (dalam hal keuntungan) atau minimax (dalam hal kerugian/biaya).
Contoh dari aplikasi model maksimin dalam memilih apakah akan melakukan perluasan,investasi baru secara besar-besaran,atau tidak melakukan investasi sama sekali ditunjukkan dalam table 3.3.
Tingkat keuntungan untuk berbagai altenatif investasi dalam masing-masing situais pertumbuhan ekonomi dapat dihitung dengan memperkirakan besarnya pendapatan dan biaya pada setiap kondisi. Nilai hasilnya diisikan dalam table maksimin tersebut (Tabel 3.3). Untuk setiap alternatif,minimum keuntungan yang dapat diperoleh dalam situasi ekonomi terburuk dicari,dan dari ketiga pilihan dipilih alternatif yang memberikan keuntungan paling besar,dimana dalam hal ini adalah alternative perluasan.
Table 3.3 Pengambilan keputusan dalam situasi tidak pasti dengan model maksimin
Alternatif
Kondisi Alam (dalam jutaan dollar AS)
Low
Med
High
Keuntungan Minimum
1
2
3
Tidak berinvestasi
Perluasan
Investasi baru
0
50
-500
0
300
100
0
200
600
0
50
-500

Alternatif investasi baru secara besar-besaran memang memungkinkan perolehan keuntungan yang lebih besar apabila kondisi ekonomi masa depan berubah dan bertumbuh dengan tingkat pertumbuhan tinggi. Namun demikian,secara konservatif,alternative ini harus ditolak karena ketika kondisi ekonomi masa depan berubah menjadi bertumbuh dengan tingkat pertumbuhan rendah,alternative ini memberikan kerugian sebesar US$500 juta. Hal ini jauh lebih buruk daripada alternative perluasan yang masih bias memberikan keuntungan sebesar US$50 juta.
Variasi model maksimin adalah model regret (penyesalan). Model ini memegang prinsip keberhati-hatian (conservatisme). Dalam model regret,pengambil keputusan menghitung besarnya opportunity cost yang akan hilang dan disesali akibat tidak dipilihnya sebuah alternative,dan lebih memilih alternative lain,pada berbagai situasi alam (kondisi alam). Nilai hasil regret dari table maksimin yang disebutkan sebelumnya (table 3.3)ditunjukkan pada table 3.4 dimana dalam bentuk table minimax.
Biaya kesempatan (opportunity cost) memilih tidak berinvestasi pada situasi ekonomi dengan pertumbuhan “low” adalah sebesar US$50 juta sebab dengan memilih alternative ini pengambil keputusan kehilangan kesempatan memperoleh US$50 juta jika memilih perluasan.biaya kesempatan melakukan investasi baru adalah sebesar US$50 juta,sebab dengan memilih alternative ini pengambil keputusan kehilangan kesempatan memperoleh US$50 juta apabila memilih perluasan,ditambah dengan memperoleh kerugian sebesar US$500 juta akibat memilih alternative ini. Total penyesalan (regret) akibat meilih alternative investasi baru dalam situasi ekonomi dengan kondisi pertumbuhan “low” adalah sebesar US$550 juta. Biaya kesempatan setiap investasi pada berbagai kondisi alam dapat diturunkan dengan cara yang sama. Dengan metode ini,pilihan berdasarkan prinsip minimax (karena biaya kesempatan adalah kerugian) tetap pada alternative perluasan.
Table 3.4 Formula regret (minimax)
Alternatif
Kondisi Alam(dalam jutaan dollar AS)
Low
Med
High
Kerugian Maksimum
1
2
3
Tidak berinvestasi
Perluasan
Investasi baru
50
0
550
300
0
200
600
400
0
600
400
550

C.     Model Skenario dalam Menghadapi Situasi Tidak Pasti
Situasi ekonomi dengan pertumbuhan low-medium-high adalah scenario situasi masa depan. Dalam berbagai situasi keputusan,scenario semacam ini cukup memadai untuk diaplikasikan sebagai perangkat pengammbilan keputusan,sepanjang nilai hasil dalam keuntungan atau biaya dapat diidentifikasi. Namun demikian,dalam situasi-situasi keputusan yang lain dimana nilai hasil semacam itu tidak dapat dan tidak relevan untuk dihitung,tampaknya metode maksimin menjadi tidak berguna. Katakanlah dalam situasi memenagkan persaingan dimana lawan menghujani pasar dengan berbagai strategi pemasaran yang lengkap. Apakah yang harus dilakukan oleh seorang pemain dalam menghadapi situasi tersebut?.
Dalam kasus ini,tidak ada nilai hasil kuantitatif yang dapat diidentifikasi,bahkan pengidentifikasiannya pun tidak relevean untuk memecahkan persoalan. Pengambil keputusan lebih dihadapkan pada identifikasi berbagai strategi pemasaran yang mungkin dilakukan oleh lawan dan kemudian mengidentifikasi berbagai rrespons yang mungkin dapat dilakukan,serta memutuskan respons mana yang paling tepat.
Smith dan Hawken (1991) menyatakan bahwa scenario adalah tiga kategori situasi (1) situasi yang sama,tetapi lebih baik dari yang sekarang; (2) situasi yang sama,tetapi lebih buruk dari sekarang;dan (3) situasi yang sama sekali berbeda,tetapi lebih baik. Peter Schwartz(1991) berpendapat bahwa scenario adalah kekuatan narasi (the power of narrative),yaitu memersepsikan dalam sebuah kalimat mengenai kondisi mendatang pada saat sekarang. Paradigm Schwartz ini mendasari paradigm cognitive mapping dalam penggambaran masa depan.
Buku ini mengartikan cognitive mapping sebagai upaya untuk menggambarkan hubungan driving forces (kekuatan pendorong) pada sejumlah factor kunci(key factors) dan interelasinya dengan berbagai kondisi alam pada masa depan. Ini adalah logika scenario yang unik bagi setiap pengambil keputusan. Determinannya adalah pengetahuan yang dimiliki pengambil keputusan dalam permasalahan terssebut dan alur logika yang dimilikinya. Agar bahasan ini menjadi riil,anggap seorang manajer harus memutuskan apakah akan masuk kedalam sebuah bisnis atau tidak. Untuk itu,dia harus mampu melihat tingkat persaingan dalam bisnis tersebut pada masa depan. Diagram pada Figur 3.1 mencoba untuk menggambarkan kognitif mapping yang dilakukan oleh manajer tersebut.
Investasi baru,kondisi pemain yang ada (existing player ),dan pertambahan pemain (industry yang baru (new entry) adalah factor-faktor kunci,sedangkan berbagai variable yang mempengaruhinya dinamakan sebagai driving forces secara terpisah,pengaruhnya pada masing-masing factor kunci dapat dididentifikasi. Misalnya,interaksi antara tingkat bunga di masa depan dan daya beli masyarakat. Apakah hal tersebut akan membuat investasi baru dalam bisnis ini menjadi semakin banyak,semakin sedikit,atau tetap dalam kondisi sekarang? Demikian pula,driving forces yang terkait dengan factor-faktor kunci yang lain dapat dianalisis secara terpisah untuk memahami efek netonya pada fakktor-faktor kunci masing-asing. Dengan demikian,pada akhirnya scenario tingkat persaingan pada bisnis tersebut dapat ditentukan:Apakah akan semakin ketat atau melemah?
Figure 3.1 Contoh cognitive mapping pengambil keputusan ketika memutuskan akan masuk atai tidak kedalam sebuah bisnis.

D.     Menggunakan Skenario
Marilah kita coba untuk mengaplikasikan model scenario yang ditunjukkan pada figure 3.1 untuk memperkirakan tingkat persaingan pada industry pakaian jadi di Indonesia periode 2012-2014. Tingkat di Indonesia pada kurun waktu tersebut mungkin akan tetap rendah seperti saat ini. Itu disebabkan oleh perkiraan akan semakin melemahnya kurs mata uang asing sehingga nilai rupiah diharapkan tidak semakin melemah. Di sisi lain,daya beli masyarakat mungkin melemah. Pemilu (pemilihan umum) yang akan dilakukan pada 2014 menyebabkan otoritas moneter tidak melakukan manajemen ekonomi secara optimal sehingga inflasi diperkirakan akan meningkat. Daya beli Negara-negara yang menjadi tujuan ekspor pakaian jadi Indonesia pun diperkirakan melemah sejalan dengan runtuhnya nilai mata uang di pasar dunia. Dengan kondisi seperti itu maka diperkirakan tidak aka nada investasi penambahan kapasitas.
Dari sudut pemain yang ada,diperkirakan kondisinya semakin menguat karena kualitas manajemen mereka membaik sejalan dengan meningkatnya tingkat pendidikan masyarakat dan menguatnya dukungan pemasok (supplier).
Walaupun hambatan untuk memasuki industry ini cukup rendah sebagai akibat daya tarik industry yang tidak terlalu menarik akibat  term of payment yang memburuk,pemain baru (yang memasuki industry ini) yang signifikan diperkirakan tidak akan terjadi.
Keseluruhan perubahan pada drifing forces dan factor-faktor kunci akan menyebabkan tingkat persaingan dalam industry pakaian jadi pada 2014 akan semakin meninggi. Tingginya tingkat persaingan ini bukan berasal dari adanya pemain baru,melainkan karena menguatnya kondisi pemain yang ada. Para pemain yang kondisinya tidak semakin membaik akan berguguran satu demi satu dalam kurun waktu tersebut.
E.       Merumuskan Skenario
Penggambaran masa depan dalam bentuk scenario merupakan sebuah lompatan kuantum dalam memprediksi masa depan secara kualitatif. Teknik ini dapat digunakan secara luas dalam berbagai bidang kehidupan,dari politik sampai dengan bisnis. Kekuatannya adalah menjelaskan berbagai kondisi masa depan yang mungkin terjadi dengan penggambaran yang jelas pada masa sekarang,yaitu tentang persaingan,tentang arah industry,atau tentang pertumbuhan ekonomi,ataupun berbagai penggambaran masa depan lainnya.
Dalam berbagai kesempatan konsultasi,penulis secara sukses menggunakan metode ini untuk mendeskripsikan scenario bisnis klien-kliennya dimasa mendatang. Salah satu model scenario yang bias diikuti,ditunjukkan pada boks 3.1. Model scenario ini pada tahun 2000 digunakan oleh penulis untuk memperkirakan masa depan persaingan bisnis telekomunikasi periode 2004-2008. Ketika berbagai scenario masa depan telah teridentifikasi maka itulah saatnya mempersiapkan berbagai langkah untuk mengantisipasinya dalam berbagai strategi. Semakin tepat scenario masa depan bisa diidentifikasikan melalui metode scenario,semakin tepat identifikasi strategi yang mungkin diaplikasikan. Dengan demikian,kemungkinan keberhasilan keputusan yang dilakukan oleh para manajer yang terkait dengan persoalan yang dibicarakan akan semakin besar.
Tidak ada aturan baku mengenai bagaimana menyusun sebuah scenario masa depan. Namun demikian,penulis lebih menyukai untuk memulainya dari perkiraan factor-faktor kunci (key factors) yang memicu situasi yang akan diperkirakan. Sejalan dengan itu dilakukan perkiraan driving  forces yang memenggaruhi factor-faktor kunci. Kejelasan factor-faktor kunci dan driving forces inilah yang memungkinkan perkiraan tentang masa depan yang dipersoalkan. Penanaman tentang divergensi masa depan dilakukan sesuai dengan karakteristik arah divergensi masa depan tersebut.
Dalam kasus scenario arah persaingan bisnis telekomunikasi tersebut (Boks 3.1),penulis memulainya dengan memperkirakan driving forces bernama





 pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi akan memicu driving forces lain,yaitu pertumbuhan industry dan daya beli. Tiga factor kunci muncul pada tahap ini,antara lain (1) kebutuhan mobile unit sebagai konsekuensi gaya hidup akibat meningkatnya daya beli, (2) diversitas modal telekomunikasi,dan (3) kebutuhan untuk memperoleh data mobile akibat tumbuhnya industry. Factor kunci pertama akan bermuara pada dua kemungkinan. Pertama,masyarakat tetap lebih menyukai fix telephone karena pulsanya yang lebih murah sehingga akan muncul kembali dua kemungkinan,yaitu (1) fix over mobile dan (2) karena tekanan gaya hidup. Bersama-sama dengan menguatnya persaingan dalam bisnis ini yang akan menekan harga pulsa seluler,memunculkan kemungkinan kedua,mobile over fix. Kebutuhan akan adanya data mobile juga akan menguatkan fenomena ini.
Ketika yang terjadi adalah kemungkinan yang pertama maka skenarionya digambarkan sebagai wired society,yaitu masyarakat yang terikat dengan telepon kabel sehingga telepon kabel tetap mendominasi bisnis telekomunikasi. Sementara itu,apabila kemungkinan kedua yang terjadi,ada tiga scenario yang diperkirakan antara lain (1) dances with wolve,situasi dimana persaingan diantara para penyedia jasa seluler yang semakin menguat namun tetap menguntungkan karena harga pulsa yang cenderung tetap tinggi;(2) sleeping with enemies,situasi dimana para penyedia jasa/layanan seluler bekerja sama dalam hal untuk elakukan efesiensi namun dengan berbagai kemungkinan hal yang tidak menguntungkan yang terjadi dalam pola kerja sama tersebut; dan(3) cut throat,situasi yang menggambarkan ketatnya persaingan dalam bisnis seluler sehingga hanaya pemain kuatlah yang mampu bertahan. Beberapa yang lebih kecilakan melakukan merger atau pola kerja sama operasi dengan operator yang juga lemah. (pembaca yang berminat dapat mengonfirmasikan hasil perkiraan yang telah dibuat oleh penulis pada tahun 2000 itu dengan kondisi persaingan di bisnis seluler pada tahun ini). Penggambaran scenario tersebut dapat dilengkapi dengan perhitungan tingkat probabilitas kejadian masing-masing scenario dengan memakai metode AHP yang akan dijelaskan pada pembahasan selanjutnya sehingga penggambaran scenario menjadi semakin lengkap.

2.3.3.   Keputusan di Bawah Situasi Resiko 
Situasi keputusan dibawah risiko terjadi jika pengambil keputusan berhadapan dengan kondisi alam yang memiliki variabilitas pada masa depan,namun peluang terjadinya dapat diketahui. Luce dan Raiffa (1957) mengidentifikasikan pengambilan keputusan dalam situasi berisiko adalah ketika sebuah tindakan membawa pada sejumlah nilai hasil yang spesifik dimana setiap nilai hasil memiliki peluang atau probabilitas yang diketahui. Pengetahuan tentang kans berbagai nilai hasil/situasi masa depan dapat berasal dari pengambil keputusan sendiri atau melalui jasa konsultan manajemen.
Berikut adalah tiga hal yang mencirikan situasi keputusan dibawah risiko :
  1. Presensi kondisi alam adalah jamak,namun probabilitas setiap kondisi alam dapat diperkirakan.
  2. Pengambil keputusan memiliki sedikit informasi sehingga mampu menentukan probabilitas masing-masing kondisi alam.
  3. Ada pihak ketiga yang mampu memberikan informasi.
Boks 3.2 memberikan gambaran ketika pengambil keputusan berinteraksi dengan risiko.
Situasi keputusan dibawah risiko diperlihatkan pada table 3.5,dimana pengambil keputusan menghadapi tiga kondisi alam yang berbeda untuk masing-masing alternative. Untuk setiap kondisi alam,masing-asing alternative memiliki NPV yang tidak sama dan probabilitas dari setiap kondisi alam dapat diketahui. Katakanlah probabilitas low sebesar 0,5; probabilitas medium sebesar 0,3; dan probabilitas high sebesar 0,2. Nilai masing-masing NPV untuk setiap alternative yang tersedia (tidak investasi,perluasan,dan investasi baru) diberikan dalam table 3.5.
Dalam kondisi semacam itu,expected value dapat dihitung dengan rumus:
Dengan kriteria maksimum expected value,keputusan yang seharusnya diambil adalah perluasan. Dalam situasi seperti ini,apabila tidak tersedia informasi tambahan yang berhubungan dengan kondisi alam maka probabilitas yang digunakan adalah probabilitas apriori dari masing-masing kondisi alam. Namun demikian,apabila sebaliknya(informasi semacam itu tersedia) maka probabilitas posteriori-lah yang seharusnya digunakan.
Table 3.5 Pengambila keputusan dalam situasi berisiko

Alternatif
Kondisi Alam (dalam jutaan dollar AS)
Rendah
0,5
Medium
0,3
Tinggi
0,2
Expected Value Jumlah (Probabilitas x Hasil)
1
2
3
Tidak Berinvestasi
Perluasan
Investasi Baru
0
50
-500
0
300
100
0
200
600
0
155
-100

BAB III
  PENUTUP
3.1 . KESIMPULAN
Dalam pembahasan ini dapat diambil kesimpulan diantaranya adalah :
1.      Keputusan adalah cara bertindak yang dipilih oleh manajer untuk mencapai sasaran dan pemecahan masalah.
2.      Pengambilan keputusan yang baik merupakan bagian vital dari manajemen yang baik karena setiap keputusan yang diambil akan menentukan bagaimana sebuah organisasi dapat mencapai tujuan-tujuannya.
3.      Dalam hal pengambilan keputusan, terdapat cara, langkah serta metode yang digunakan sehingga pengambilan keputusan merupakan langkah akhir dalam fungsi manajemen (perencanaan) sebagai petunjuk langkah-langkah selanjutnya.

3.2.    SARAN
Setelah kita mengetahui berbagai macam hal mengenai manajer dan pengambilan keputusan yang baik dan yang benar maka hendaknya ilmu ini diaktualisasikan ke kehidupan nyata sehingga sebuah organisasi dapat mencapai tujuan-tujuannya dan dapat pula meminimalisasikan  kesalahan-kesalahan yang tidak terduga ataupun tidak diinginkan, dan hendaknya pembaca jika menjadi seorang pemimpin dalam suatu organisasi dapat mengambil keputusan yang tepat dan menerapkan gaya kepmimpinan sesuai dengan situasi dengan berbagai pertimbangan yang telah diperhutungkan secara matang.  
DAFTAR PUSTAKA
Machine,M.J.”Choice Under Uncertainty:Problems Solved and Unsolved”,Journal of Economic Perspectives,1,hlm.121-154(1987).
Riabacke,Ari,”Managerial Decision Making Under Risk and Uncertainty”,IAENG International Journal of Computer Science (2006).
Schwartz,P.The Art of Long View (Currency Doubleday,1996).
Smith dan Hawken,dalam Greenleaf,R.K.Creating and Changing Mindset (Greenleaf & Papanek Publications,1991).
Triono,R.”Strategi Memasuki Pasar PT.XYZ”,Laporan Proyek tidak diterbitkan (2004).
Robbins. Stepen P. 2003. Manajemen. Edisi Bahasa IndonesiaJakarat : PT Indeks

Kasim, Azhar. Teori Pembuatan Keputusan. Jakarta : Lembaga Penerbit FE UI. 1995
Syamsi, Ibnu. Pengambilan Keputusan (Decision Making). Jakarta : Bina Aksara. 1989
www.antaranews.com diakses Senin, 16 November 2009

Popular Posts